Manusia Belajar dari Kehidupannya
Hari Jumat kemarin saya menemani ibu keliling-keliling Rawamangun cari tempat beli kolang-kaling (hey it’s a rhyme). Ternyata hari beranjak sore dan ibu teringat belum shalat dzuhur. Akhirnya kami singgah di masjid sekolah saya dulu. Masjid di lingkungan SD Muhammadiyah 24 Rawamangun, Jakarta Timur.Sementara ibu shalat, saya mampir ke kantor guru. Tidak ramai, tapi saya menemukan dua guru SD saya di sana. Mereka memang sudah menjadi lebih tua, tapi tidak terlalu berbeda dengan ketika mengajar saya dulu. Padahal sudah 10 tahun lebih, tapi perubahan mukanya tampak baru bertambah beberapa tahun. Orang bilang jadi guru memang bisa membuat awet muda. Malah dulu di SD saya ini guru olahraga ada dua, satu muda satu lebih tua. Belakangan baru saya ketahui kalau ternyata yang tua itu adalah guru olahraga yang mengajar guru olahraga yang lebih muda waktu si guru olahraga muda masih SD. Ternyata guru olahraga tua sudah setua itu. Sama sekali tidak terduga.Selain ngobrol dengan kedua guru yang ada di kantor, saya mencari satu poster yang selalu menarik perhatian saya sejak SD dulu. Ternyata poster itu masih ada.
Kata-kata dalam poster itu menarik sekali. Begini kata-katanya:
Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya, yaitu cinta kepada Khaliqnya.
Kata-kata itu dilihat setiap hari oleh guru-guru SD saya. Mempengaruhi gaya mengajar mereka. Masa belajar di SD memang masa yang menyenangkan. Benar sekali kata-kata itu, anak-anak memang belajar dari kehidupannya. Saya belajar dari kehidupan saya.
Semua yang telah saya lalui adalah yang membentuk diri saya. Semuanya. Segala pengalaman bermain, belajar, susah, senang, sedih, semuanya. Saya hari ini menjadi orang yang berani mencoba sesuatu yang baru mungkin karena jarang ada yang pernah menghukum atau memarahi saya kalau saya berbuat sesuatu yang berbeda, saya selalu punya cara untuk melampiaskan isi pikiran saya. Saya hari ini juga menjadi orang yang lempeng, kurang semangat bersaing, mungkin juga karena sejak kecil jarang terlibat dalam persaingan seperti misalnya olahraga kompetisi.
Orang lain pun pasti dibentuk oleh kehidupannya. Jangan heran jika ada orang yang suka marah-marah, tanyakan saja padanya apa kisah hidupnya sampai ia menjadi pemarah. Tanyakan saja! Mungkin dengan menanyainya ia menjadi sadar dan mencoba berubah (jika ia merasa perlu mengubah dirinya). Dari jawabannya pun kita dapat mengambil pelajaran bagi diri kita, untuk diri kita sendiri atau untuk mengajari keturunan kita nanti. Ini menarik. Saya melihat ayah saya, dan saya tahu apa kisah masa kecilnya yang menjadikan dia seperti itu sehingga saya bisa mempelajari bagaimana seharusnya saya menyediakan pengalaman hidup bagi anak saya nantinya.
Mungkin memang masih panjang, masih lama. Tapi tidak ada salahnya dirintis hari ini. Alhamdulillah hidup belum berakhir, hari ini usia saya 23 tahun lebih 4 bulan dan beberapa hari, semoga masih banyak waktu bagi saya. Masih banyak pengalaman yang bisa mengajarkan saya. Life will always be a great adventure. Yeah!!




kata2nya bagus banget, jul..
entah dmana ya, gw pernah baca juga tuh.
cocok dan sedikit banyak membantu, buat jd pedoman mendidik anak kelak