Karyawan Siang dan Seniman Malam

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan gue dan temen gue kemaren di kampus. Gue udah lama ga ktemu dia dan dia ga keliatan sesemangat biasanya. Dia keliatan lebih lesu sedikit. Ternyata keseharian dia bikin dia sekarang jadi kaya gitu…
Sebelumnya gue harus cerita dia dulunya kaya apa. Dia dulu adalah aktivis kampus yang lumayan terkenal, tiap kali gue ketemu dia pasti dia menyapa gue dengan semangat 45. Jangan bayangin dia tipe aktivis yang demo ke jalan, bukan itu. Dia tipe yang sigap hadir di tiap daerah yang kena bencana. Dia juga sering ada di posko-posko bantuan donasi. Dia bener-bener mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya buat pengabdian masyarakat. Dia bilang dia sangat menikmati momen ketika dia turun ke lapangan.
Tapi sekarang dia kehilangan momen itu. Alasannya adalah tuntutan untuk mulai menghidupi diri dan juga mungkin menghidupi orang lain, alias pekerjaan. Bukan hal aneh ya, ini umum banget. Ada sebagian orang yang ngerasa, ada juga yang ngga. Ada yang bisa terpuaskan dengan berdonasi dengan uang hasil pekerjaannya untuk kegiatannya, tapi ga demikian dengan temen gue yang satu ini. Momennya ga dapet katanya. Tapi gue salut dia masih gelisah, karena banyak yang udah menyerah. “Eh, kok lo ga pernah ikutan blablabla (apapun kegiatan idealismenya dulu) lagi?”, “Ga sempet gue. Sekarang gue pulang kantor jam 4 trus di jalan 2 jam, sampe rumah capek, dst…”. Sering tuh kedengaran gitu…
Setelah setahun lebih gue berkarir di Jakarta, gue menemukan banyak orang yang sukses menyiasati tuntutan pekerjaan dan ribetnya kehidupan kota. Inilah yang gue bilang karyawan siang dan seniman malam. Mereka adalah orang-orang yang berjuang mengatur waktu kesehariannya dan memaksa diri untuk bisa menyeimbangkan kantong (duit) dan jiwanya (idealisme). Mereka bekerja di siang hari untuk menghidupi diri lalu meluangkan malam untuk mengobati dahaga jiwa. Butuh effort lebih pastinya.
Orang kaya gini ternyata juga tidak sedikit, wadahnya pun juga makin banyak. Banyak diskusi dibikin di malam hari dan seringkali ada rapat komunitas malem-malem buat bahas kegiatan komunitas itu sendiri.
Effort lebih yang gue liat di sekitar gue lebih gila dari yang dulu gue kira. Gue pernah rapat di daerah Menteng sampe hampir jam 12 malem, pas bubaran gue baru tau rumah 1/3 peserta rapat pada di Cibubur dan sisanya juga ga ada yang di Menteng. Gue waktu itu ikut rapat sampe jam segitu karena toh kantor gue masuk jam 9-an dan cukup longgar. Yah tapi mereka yang rumahnya jauh rata-rata pada mulai aktivitas pagi sekitar jam 7. Latian aikido juga gitu, orang-orang yang pingin peningkatan skillnya maksimal pada deliberate practice, walaupun rumahnya jauh latian sampe jam 11 atau 12 malem. Cukup edan buat gue. Bener-bener bikin malu kalo gue cuma gitu- gitu doang.
Hiduplo pilihanlo, bisa lo atur semaksimalnya buat lo sendiri. Bung Yoris yang kreatif itu punya caranya sendiri, dia membagi waktunya 70% buat kumpulin duit, 20% buat ngelakuin hal yang anak gila tapi ngehasilin duit, dan 10% buat hal yang benar-benar gila. Gue ga ngajak lo buat bagi waktulo persis kaya gitu, bisa beda-bedalah… Gue nulis ini karena gue pingin ajak temen gue itu, juga lo, dan buat memantapkan gue sendiri juga bahwa masih bisa berkarya walaupun tuntutan hidup bikin makin sibuk. Makin disiplin yuk ah.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.