Karyawan Siang dan Seniman Malam

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan gue dan temen gue kemaren di kampus. Gue udah lama ga ktemu dia dan dia ga keliatan sesemangat biasanya. Dia keliatan lebih lesu sedikit. Ternyata keseharian dia bikin dia sekarang jadi kaya gitu…
Sebelumnya gue harus cerita dia dulunya kaya apa. Dia dulu adalah aktivis kampus yang lumayan terkenal, tiap kali gue ketemu dia pasti dia menyapa gue dengan semangat 45. Jangan bayangin dia tipe aktivis yang demo ke jalan, bukan itu. Dia tipe yang sigap hadir di tiap daerah yang kena bencana. Dia juga sering ada di posko-posko bantuan donasi. Dia bener-bener mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya buat pengabdian masyarakat. Dia bilang dia sangat menikmati momen ketika dia turun ke lapangan.
Tapi sekarang dia kehilangan momen itu. Alasannya adalah tuntutan untuk mulai menghidupi diri dan juga mungkin menghidupi orang lain, alias pekerjaan. Bukan hal aneh ya, ini umum banget. Ada sebagian orang yang ngerasa, ada juga yang ngga. Ada yang bisa terpuaskan dengan berdonasi dengan uang hasil pekerjaannya untuk kegiatannya, tapi ga demikian dengan temen gue yang satu ini. Momennya ga dapet katanya. Tapi gue salut dia masih gelisah, karena banyak yang udah menyerah. “Eh, kok lo ga pernah ikutan blablabla (apapun kegiatan idealismenya dulu) lagi?”, “Ga sempet gue. Sekarang gue pulang kantor jam 4 trus di jalan 2 jam, sampe rumah capek, dst…”. Sering tuh kedengaran gitu…
Setelah setahun lebih gue berkarir di Jakarta, gue menemukan banyak orang yang sukses menyiasati tuntutan pekerjaan dan ribetnya kehidupan kota. Inilah yang gue bilang karyawan siang dan seniman malam. Mereka adalah orang-orang yang berjuang mengatur waktu kesehariannya dan memaksa diri untuk bisa menyeimbangkan kantong (duit) dan jiwanya (idealisme). Mereka bekerja di siang hari untuk menghidupi diri lalu meluangkan malam untuk mengobati dahaga jiwa. Butuh effort lebih pastinya.
Orang kaya gini ternyata juga tidak sedikit, wadahnya pun juga makin banyak. Banyak diskusi dibikin di malam hari dan seringkali ada rapat komunitas malem-malem buat bahas kegiatan komunitas itu sendiri.
Effort lebih yang gue liat di sekitar gue lebih gila dari yang dulu gue kira. Gue pernah rapat di daerah Menteng sampe hampir jam 12 malem, pas bubaran gue baru tau rumah 1/3 peserta rapat pada di Cibubur dan sisanya juga ga ada yang di Menteng. Gue waktu itu ikut rapat sampe jam segitu karena toh kantor gue masuk jam 9-an dan cukup longgar. Yah tapi mereka yang rumahnya jauh rata-rata pada mulai aktivitas pagi sekitar jam 7. Latian aikido juga gitu, orang-orang yang pingin peningkatan skillnya maksimal pada deliberate practice, walaupun rumahnya jauh latian sampe jam 11 atau 12 malem. Cukup edan buat gue. Bener-bener bikin malu kalo gue cuma gitu- gitu doang.
Hiduplo pilihanlo, bisa lo atur semaksimalnya buat lo sendiri. Bung Yoris yang kreatif itu punya caranya sendiri, dia membagi waktunya 70% buat kumpulin duit, 20% buat ngelakuin hal yang anak gila tapi ngehasilin duit, dan 10% buat hal yang benar-benar gila. Gue ga ngajak lo buat bagi waktulo persis kaya gitu, bisa beda-bedalah… Gue nulis ini karena gue pingin ajak temen gue itu, juga lo, dan buat memantapkan gue sendiri juga bahwa masih bisa berkarya walaupun tuntutan hidup bikin makin sibuk. Makin disiplin yuk ah.

‘Tanya kenapa.’

Barusan gue menghapus blog friendster gue. Sebelumnya walaupun lama dicuekin tapi ga pernah diapus. Tapi ternyata akhir-akhir ini blog itu sering mendapat serangan spam. Jadi supaya ga bikin inbox gue penuh ya gue hapuslah blog itu. Tapi sebelum dihapus tentunya semua tulisan dan komentar disalin ke satu dokumen sendiri, ini kenangan berharga yang ga boleh dihapus gitu aja. Gue baca-baca juga tulisan-tulisan gue dulu. Menarik. Kembali ke masa lalu saat kelas tiga sma sampai bulan-bulan pertama kuliah. Ada satu tulisan yang pingin gue bagi di sini. Tulisan jaman gue mulai banyak bertanya. Silakan dijelajahi, judulnya: ‘Tanya kenapa.’

 

Tanya kenapa.

Hari ini, setelah sahur.
Gw tidur, gw bermimpi bahwa gw naik gunung lagi. Tapi aneh, di kaki gunung tanahnya pada berantakan, ada traktor yang lagi ngebongkar tanah. Kayaknya di kaki gunung itu mo dibikin sesuatu. Gw sedih. Trus gw lanjutin perjalanan, gw ketemu dengan temen gw yang hubungan gw dengan dia selama ini ga enak. Kebetulan ketemu di gunung, gw sekalian aja ajak ngobrol dan minta maap. Kemudian mimpi gw seperti dipercepat, gw bertemu dengan 2 anak kecil cewek yang lucu. Gw ngobrol banyak dengan mereka, akrab banget… Kayaknya gw ga akan bosen ngobrol dengan mereka, tapi akhirnya terjadi perpisahan. Gw harus pulang ke kota, dalam mimpi gw itu entah kenapa gw menangis, mungkin kareana perpisahan? Setelah itu gw terjaga lagi. Trus gw nyalain tv, liat berita. Parah banget, berita pagi ini dipenuhi dengan berita tentang penderitaan rakyat akibat bbm naek, abis itu ada berita flu burung yang udah menjalar ke Yunani, abis itu masih ada berita serangan udara Amerika terhadap negara Islam, katanya buat membasmi teroris tapi sebagian besar yang meninggal orang-orang sipil. Ngliat itu semua, gw jadi lemes. Kenapa di dunia ini banyak banget masalah? Kenapa banyak orang suka nyelesain masalah dengan masalah? Kenapa banyak orang mungkin termasuk gw ga bisa belajar dari pengalaman dan menjadi lebih wise dalam mengambil keputusan? Kenapa kita masih tercerai-berai? Kenapa ada negara maju yang sedemikian maju sehngga kelebihan makanan tapi masih ada negara yang penduduknya mati kelaparan? Kenapa kita diam setelah melihat kenyataan? Kenapa banyak di antara kita cuma bisa ngomentarin dari belakang atau cuma bisa ngomel di depan tv? Kenapa kita gak ambil tindakan nyata?
Abis itu gw kuliah dengan males. Lesu. Perasaan gw campur-aduk. Gw sendiri ga ngerti knapa otak gw yang biasanya cuek-cuek aja, hari ini jadi penuh dengan masalah-masalah kemanusiaan di satu sisi dan kangen gunung di sisi lainnya.
Gw ga ngerti.

 

Pilihan Hidup

Sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Beberapa bulan terakhir saya dihadapkan dengan tantangan mengurus jalur dan arah hidup secara lebih mandiri. Ya, seorang sarjana memang sudah harus mampu berdikari. Tidak perlu menunggu lulus sebenarnya saya sudah punya rencana hidup saya. Tapi pelaksanaannya tentu lebih seru daripada perencanaannya.

Saya tau bahwa saya bukan orang yang senang dikekang. Tentu saja, saya pikir siapa sih manusia berpikir yang suka dikekang? Tentu saya ingin bebas berpikir, berkarya, beropini, bebas melakukan apa yang ingin saya lakukan dan tentunya siap menerima konsekuensi apapun dari tingkah laku saya. Saya ingin bebas.

Hidup yang ideal di kepala saya adalah hidup yang dinamis, selalu berkembang dan jauh dari rutinitas yang melumpuhkan jiwa petualang. Oke, dua itu saja dulu. Saya ingin hidup bebas dan dinamis. Dari dua keinginan saya tadi saya memutuskan bahwa saya tidak ingin bekerja di perusahaan besar. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Maaf, tapi saya rasa sebagian besar perusahaan besar yang ada tidak hanya membuat hidup untuk kerja tapi justru membuat mati (mati jiwa, idealisme, dll). Oke, kita memang bisa bertahan dan tetap menjadi diri sendiri walau berada dalam perusahaan besar. Tapi daripada sekedar bertahan, saya lebih suka maju menerjang. Jadi pilihan saya bukan pada perusahaan besar, saya jauh lebih memilih membesarkan perusahaan. Semoga ini dapat menjelaskan jika ada rekan yang bingung mengapa saya tidak pernah melamar pekerjaan di perusahaan besar dan malas ikut hadir dalam job fair.

Memang ada beberapa perkecualian, saya mengikuti tes cpns di beberapa kementerian negara. Alasannya adalah: saya ingin berkarya nyata di bidang yang telah saya pelajari di pendidikan sarjana saya yaitu teknik lingkungan. Menjadi pegawai negeri di beberapa kementerian dapat menjadi jalur yang sangat baik untuk pencapaian hal ini. Namun saya sadar sepenuhnya bahwa itu bukanlah satu-satunya jalur berkarya di bidang saya. Selalu ada cara untuk berkarya dan saya telah menggelutinya sebelum mengikuti tes cpns. Akhirnya saya tidak lulus dari tes tersebut. Ya sudah, semoga yang terpilih dapat optimal berkarya di sana dan saya akan berkarya dengan jalur lain. Semoga bersama-sama kami bisa memperbaiki Indonesia dan dunia.

Lalu jika saya ingin hidup bebas, dinamis, dan mampu berkarya pada bidang saya (teknik lingkungan terutama sanitasi) mengapa saya memilih pekerjaan saya sekarang di perusahaan bidang pendidikan? Bidang pendidikan memang juga menjadi minat saya walau bukan yang utama. Menyenangkan melihat orang-orang berkembang secara nyata, hal ini sering terlihat di dunia pendidikan. Walau demikian, pekerjaan saya saat ini bukan untuk mendidik namun untuk menyebarkan pentingnya pendidikan yang benar. Bagaimana pendidikan yang benar mungkin akan saya tuliskan lain kali. Nah, dalam pekerjaan ini saya harus banyak berkeliling ke tempat-tempat baru. Ini cocok dengan pilihan hidup saya yang dinamis. Perusahaan saya belum menjadi perusahaan besar, banyak kebebasan yang bisa saya nikmati sambil turut serta berusaha membesarkan perusahaan. Salah satu kebebasan yang bisa saya nikmati adalah kebebasan untuk tetap berkarya pada bidang sanitasi. Hal terakhir ini sudah saya tekankan sejak pertama kali saya bersedia bergabung dengan perusahaan.

Kurang lebih inilah yang saya inginkan saat ini, pekerjaan yang menyenangkan dan mampu mendukung penghidupan saya serta kebebasan untuk tetap melaksanakan passion saya. Tentu bukan berarti saya akan stop di sini. Ini adalah permulaan yang baik.

A man can be free without being great, but no man can be great without being free.
(Kahlil Gibran’s letter May 16,
1913.)

-Argo Parahyangan, 13 Februari 2011-

Sang Idealis Telah Menjadi Sang Visioner

Ini tentang hasil tes kepribadian saya yang saya ambil kembali, ternyata hasilnya berubah. Tes sebelumnya mengatakan bahwa saya adalah seorang yang idealis. Sebenarnya saya merasa cocok-cocok saja dengan deskripsi seorang idealis yang dimaksud (baca: Saya Seorang Idealis). Namun memang ada satu faktor yang meragukan. Sang idealis memiliki empat ciri kepribadian, yaitu: introverted, intuition, feeling, perceiving.  Saya rasa (dan begitu juga dengan banyak teman yang melakukan protes) saya bukanlah seorang yang introverted. Saya jelas extraverted, sangat mudah bagi saya menceritakan persoalan pribadi saya pada teman-teman saya.

Selain satu faktor yang menjadi faktor utama tersebut, kegiatan yang saya alami akhir-akhir ini, tontonan, dan bacaan saya sepertinya juga sangat mempengaruhi kepribadian saya. Selain extraverted, saya juga merasa ada hal lain yang berubah menjadi tidak sesuai. Maka akhirnya saya mengambil lagi tes tersebut sebelum saya menulis artikel ini. Hasilnya: saya visioner. Sang visioner memiliki empat ciri yaitu ENTP: extraverted, intuitive, thinking, perceiving. Paparan lebih lengkap mengenai karakter seorang visioner ENTP dapat dilihat pada artikel berikut yang diambil dari http://www.personalitypage.com/ENTP.html.

The Visionary

As an ENTP, your primary mode of living is focused externally, where you take things in primarily via your intuition. Your secondary mode is internal, where you deal with things rationally and logically.

With Extraverted Intuition dominating their personality, the ENTP’s primary interest in life is understanding the world that they live in. They are constantly absorbing ideas and images about the situations they are presented in their lives. Using their intuition to process this information, they are usually extremely quick and accurate in their ability to size up a situation. With the exception of their ENFP cousin, the ENTP has a deeper understanding of their environment than any of the other types.

This ability to intuitively understand people and situations puts the ENTP at a distinct advantage in their lives. They generally understand things quickly and with great depth. Accordingly, they are quite flexible and adapt well to a wide range of tasks. They are good at most anything that interests them. As they grow and further develop their intuitive abilities and insights, they become very aware of possibilities, and this makes them quite resourceful when solving problems.

ENTPs are idea people. Their perceptive abilities cause them to see possibilities everywhere. They get excited and enthusiastic about their ideas, and are able to spread their enthusiasm to others. In this way, they get the support that they need to fulfill their visions.

ENTPs are less interested in developing plans of actions or making decisions than they are in generating possibilities and ideas. Following through on the implementation of an idea is usually a chore to the ENTP. For some ENTPs, this results in the habit of never finishing what they start. The ENTP who has not developed their Thinking process will have problems with jumping enthusiastically from idea to idea, without following through on their plans. The ENTP needs to take care to think through their ideas fully in order to take advantage of them.

The ENTP’s auxiliary process of Introverted Thinking drives their decision making process. Although the ENTP is more interested in absorbing information than in making decisions, they are quite rational and logical in reaching conclusions. When they apply Thinking to their Intuitive perceptions, the outcome can be very powerful indeed. A well-developed ENTP is extremely visionary, inventive, and enterprising.

ENTPs are fluent conversationalists, mentally quick, and enjoy verbal sparring with others. They love to debate issues, and may even switch sides sometimes just for the love of the debate. When they express their underlying principles, however, they may feel awkward and speak abruptly and intensely.

The ENTP personality type is sometimes referred to the “Lawyer” type. The ENTP “lawyer” quickly and accurately understands a situation, and objectively and logically acts upon the situation. Their Thinking side makes their actions and decisions based on an objective list of rules or laws. If the ENTP was defending someone who had actually committed a crime, they are likely to take advantage of quirks in the law that will get their client off the hook. If they were to actually win the case, they would see their actions as completely fair and proper to the situation, because their actions were lawful. The guilt or innocence of their client would not be as relevant. If this type of reasoning goes uncompletely unchecked by the ENTP, it could result in a character that is perceived by others as unethical or even dishonest. The ENTP, who does not naturally consider the more personal or human element in decision making, should take care to notice the subjective, personal side of situations. This is a potential problem are for ENTPs. Although their logical abilities lend strength and purpose to the ENTP, they may also isolate them from their feelings and from other people.

The least developed area for the ENTP is the Sensing-Feeling arena. If the Sensing areas are neglected, the ENTP may tend to not take care of details in their life. If the Feeling part of themself is neglected, the ENTP may not value other people’s input enough, or may become overly harsh and aggressive.

Under stress, the ENTP may lose their ability to generate possibilities, and become obsessed with minor details. These details may seem to be extremely important to the ENTP, but in reality are usually not important to the big picture.

In general, ENTPs are upbeat visionaries. They highly value knowledge, and spend much of their lives seeking a higher understanding. They live in the world of possibilities, and become excited about concepts, challenges and difficulties. When presented with a problem, they’re good at improvising and quickly come up with a creative solution. Creative, clever, curious, and theoretical, ENTPs have a broad range of possibilities in their lives.

Jungian functional preference ordering for ENTP:

Dominant: Extraverted Intuition
Auxiliary: Introverted Thinking
Tertiary: Extraverted Feeling
Inferior: Introverted Sensing

The Visionary

As an ENTP, your primary mode of living is focused externally, where you take things in primarily via your intuition. Your secondary mode is internal, where you deal with things rationally and logically.

With Extraverted Intuition dominating their personality, the ENTP’s primary interest in life is understanding the world that they live in. They are constantly absorbing ideas and images about the situations they are presented in their lives. Using their intuition to process this information, they are usually extremely quick and accurate in their ability to size up a situation. With the exception of their ENFP cousin, the ENTP has a deeper understanding of their environment than any of the other types.

This ability to intuitively understand people and situations puts the ENTP at a distinct advantage in their lives. They generally understand things quickly and with great depth. Accordingly, they are quite flexible and adapt well to a wide range of tasks. They are good at most anything that interests them. As they grow and further develop their intuitive abilities and insights, they become very aware of possibilities, and this makes them quite resourceful when solving problems.

ENTPs are idea people. Their perceptive abilities cause them to see possibilities everywhere. They get excited and enthusiastic about their ideas, and are able to spread their enthusiasm to others. In this way, they get the support that they need to fulfill their visions.

ENTPs are less interested in developing plans of actions or making decisions than they are in generating possibilities and ideas. Following through on the implementation of an idea is usually a chore to the ENTP. For some ENTPs, this results in the habit of never finishing what they start. The ENTP who has not developed their Thinking process will have problems with jumping enthusiastically from idea to idea, without following through on their plans. The ENTP needs to take care to think through their ideas fully in order to take advantage of them.

The ENTP’s auxiliary process of Introverted Thinking drives their decision making process. Although the ENTP is more interested in absorbing information than in making decisions, they are quite rational and logical in reaching conclusions. When they apply Thinking to their Intuitive perceptions, the outcome can be very powerful indeed. A well-developed ENTP is extremely visionary, inventive, and enterprising.

ENTPs are fluent conversationalists, mentally quick, and enjoy verbal sparring with others. They love to debate issues, and may even switch sides sometimes just for the love of the debate. When they express their underlying principles, however, they may feel awkward and speak abruptly and intensely.

The ENTP personality type is sometimes referred to the “Lawyer” type. The ENTP “lawyer” quickly and accurately understands a situation, and objectively and logically acts upon the situation. Their Thinking side makes their actions and decisions based on an objective list of rules or laws. If the ENTP was defending someone who had actually committed a crime, they are likely to take advantage of quirks in the law that will get their client off the hook. If they were to actually win the case, they would see their actions as completely fair and proper to the situation, because their actions were lawful. The guilt or innocence of their client would not be as relevant. If this type of reasoning goes uncompletely unchecked by the ENTP, it could result in a character that is perceived by others as unethical or even dishonest. The ENTP, who does not naturally consider the more personal or human element in decision making, should take care to notice the subjective, personal side of situations. This is a potential problem are for ENTPs. Although their logical abilities lend strength and purpose to the ENTP, they may also isolate them from their feelings and from other people.

The least developed area for the ENTP is the Sensing-Feeling arena. If the Sensing areas are neglected, the ENTP may tend to not take care of details in their life. If the Feeling part of themself is neglected, the ENTP may not value other people’s input enough, or may become overly harsh and aggressive.

Under stress, the ENTP may lose their ability to generate possibilities, and become obsessed with minor details. These details may seem to be extremely important to the ENTP, but in reality are usually not important to the big picture.

In general, ENTPs are upbeat visionaries. They highly value knowledge, and spend much of their lives seeking a higher understanding. They live in the world of possibilities, and become excited about concepts, challenges and difficulties. When presented with a problem, they’re good at improvising and quickly come up with a creative solution. Creative, clever, curious, and theoretical, ENTPs have a broad range of possibilities in their lives.

Jungian functional preference ordering for ENTP:

Dominant: Extraverted Intuition
Auxiliary: Introverted Thinking
Tertiary: Extraverted Feeling
Inferior: Introverted Sensing

Manusia Belajar dari Kehidupannya

Hari Jumat kemarin saya menemani ibu keliling-keliling Rawamangun cari tempat beli kolang-kaling (hey it’s a rhyme). Ternyata hari beranjak sore dan ibu teringat belum shalat dzuhur. Akhirnya kami singgah di masjid sekolah saya dulu. Masjid di lingkungan SD Muhammadiyah 24 Rawamangun, Jakarta Timur.Sementara ibu shalat, saya mampir ke kantor guru. Tidak ramai, tapi saya menemukan dua guru SD saya di sana. Mereka memang sudah menjadi lebih tua, tapi tidak terlalu berbeda dengan ketika mengajar saya dulu. Padahal sudah 10 tahun lebih, tapi perubahan mukanya tampak baru bertambah beberapa tahun. Orang bilang jadi guru memang bisa membuat awet muda. Malah dulu di SD saya ini guru olahraga ada dua, satu muda satu lebih tua. Belakangan baru saya ketahui kalau ternyata yang tua itu adalah guru olahraga yang mengajar guru olahraga yang lebih muda waktu si guru olahraga muda masih SD. Ternyata guru olahraga tua sudah setua itu. Sama sekali tidak terduga.Selain ngobrol dengan kedua guru yang ada di kantor, saya mencari satu poster yang selalu menarik perhatian saya sejak SD dulu. Ternyata poster itu masih ada.

Kata-kata dalam poster itu menarik sekali. Begini kata-katanya:

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya, yaitu cinta kepada Khaliqnya.

Kata-kata itu dilihat setiap hari oleh guru-guru SD saya. Mempengaruhi  gaya mengajar mereka. Masa belajar di SD memang masa yang menyenangkan. Benar sekali kata-kata itu, anak-anak memang belajar dari kehidupannya. Saya belajar dari kehidupan saya.

Semua yang telah saya lalui adalah yang membentuk diri saya. Semuanya. Segala pengalaman bermain, belajar, susah, senang, sedih, semuanya. Saya hari ini menjadi orang yang berani mencoba sesuatu yang baru mungkin karena jarang ada yang pernah menghukum atau memarahi saya kalau saya berbuat sesuatu yang berbeda, saya selalu punya cara untuk melampiaskan isi pikiran saya. Saya hari ini juga menjadi orang yang lempeng, kurang semangat bersaing, mungkin juga karena sejak kecil jarang terlibat dalam persaingan seperti misalnya olahraga kompetisi.

Orang lain pun pasti dibentuk oleh kehidupannya. Jangan heran jika ada orang yang suka marah-marah, tanyakan saja padanya apa kisah hidupnya sampai ia menjadi pemarah. Tanyakan saja! Mungkin dengan menanyainya ia menjadi sadar dan mencoba berubah (jika ia merasa perlu mengubah dirinya). Dari jawabannya pun kita dapat mengambil pelajaran bagi diri kita, untuk diri kita sendiri atau untuk mengajari keturunan kita nanti. Ini menarik. Saya melihat ayah saya, dan saya tahu apa kisah masa kecilnya yang menjadikan dia seperti itu sehingga saya bisa mempelajari bagaimana seharusnya saya menyediakan pengalaman hidup bagi anak saya nantinya.

Mungkin memang masih panjang, masih lama. Tapi tidak ada salahnya dirintis hari ini. Alhamdulillah hidup belum berakhir, hari ini usia saya 23 tahun lebih 4 bulan dan beberapa hari, semoga masih banyak waktu bagi saya. Masih banyak pengalaman yang bisa mengajarkan saya. Life will always be a great adventure. Yeah!!

Kisah Lama: Mahameru 2005

Ini adalah cerita mengenai perjalanan ke Puncak Gunung Semeru yang saya dan teman-teman lakukan pada pertengahan 2005, lima tahun yang lalu. Perjalanan ini saya laksanakan tanpa mendapat izin dari ibu. Bukan sesuatu yang perlu dicontoh. Saat itu, hingga hari ini, saya sangat ingin naik gunung. Sayangnya perjalanan ini merupakan terakhir kalinya saya naik gunung. Saya harap tahun ini saya bisa kembali naik gunung.

A Journey To Mahameru

At last… Saya kembali berada di sini, di tengah suasana ibukota yang sudah sejak Rabu 13 Juli kemarin sampai hari ini Senin 18 Juli 2005 saya tinggalkan untuk mendaki Semeru. Akhirnya setelah tahun lalu saya mendaki Gunung Rinjani 3.726 m dpl dan berhasil mencapai puncak pada tanggal 16 Juli 2004 pukul 06.23 saya naik gunung lagi, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, target kali ini adalah Puncak Mahameru, 3.676 m dpl.

Pendakian kali ini diikuti oleh para anggota ELPALA (Enam Lapan Pecinta Alam): Nando (XIX), David/Konde (XVI), Hafidza/Tie-tie (XIX), Meta (XVIII), Teguh (XVII), Yoga Pratama/Tama (XIV), dan gw sendiri Zulfikar/Ijul (XVIII) serta 2 anggota menyusul setelah mendaki Gunung Lawu: Bakti (VII) dan Asa (XX).

Tim Pendaki

Hari I, Rabu 13 Juli 2005

Setelah belanja persediaan makanan pada tanggal 12 Juli, tim berkumpul di SMA N 68 pada keesokan harinya untuk memulai ekspedisi kali ini. Saya sendiri baru berangkat setelah mencium lutut ibu yang hingga keberangkatan tidak juga memberikan izin pada saya. Bulan depan saya mulai berkuliah, mungkin semakin jarang kesempatan naik gunung bersama ELPALA. Saya bersikeras, saya tetap berangkat walau ibu melarang. Pergolakan batin tentu terjadi hingga akhirnya mantap membangkang. Persiapan sudah maksimal, fisik dan logistik. Baik, berangkat. Maaf Bu.

Tim berkumpul pada jam 10 pagi dan kemudian berangkat menuju Stasiun Senen untuk membeli tiket KA Matarmaja seharga Rp55.000,- dengan jadwal keberangkatan Pukul 14.10. Setelah berkutat dengan para calon pembeli lainnya, akhirnya tiket dapat dibeli dengan sukses. Setelah makan siang, tim berangkat menuju Malang. Suasana KA kelas ekonomi itu bener-bener ramai, tidak pernah sepi. Baru memasuki gerbong kami sudah harus berargumentasi dengan seorang kakek tua yang memaksa menduduki tempat kami. Akhirnya kami berbagi. Sehingga posisi tidur semakin susah, selain karena posisi duduk yang kurang nyaman juga karena para penjual berbagai macam barang yang aktif berlalu-lalang di lorong gerbong.

Hari II, Kamis 14 Juli 2005

Memang benar semboyan yang berbunyi: “Sengsara membawa nikmat.” Setelah berada di kereta sekitar 20 jam (ngaret!!) akhirnya tim sampai di Malang dan langsung santap siang. Setelah kenyang, tim menggunakan angkot ke daerah Tumpang, dari sana tim menyewa sebuah Jip yang digunakan untuk mengantar ke pos pertama pendakian yang bernama Ranu Pani. Setelah mengurus izin ini-itu, tim akhirnya memulai pendakian sekitar pukul 5 sore. Sore mulai berganti malam, dan cerah pun berganti hujan. Dengan penerangan senter dan penghangatan jaket serta perlindungan rain coat, tim terus melanjutkan pendakian malam itu. Target malam ini: Ranu Kumbolo.

Setelah berjalan selama ± 3 jam, akhirnya tim mencapai Ranu Kumbolo dan memutuskan untuk bermalam di tenda yang kami bangun di dekat pondokan yang berada di tepi Danau Ranu Kumbolo. Setelah berganti baju dan bersantap malam, tim masuk ke sleeping bag masing-masing dan melaksanakan suatu ritual penting: tidur.

Santap malam

Hari III, Jumat 15 Juli 2005

Saya bangun kira-kira jam sembilan. Langsung ditawari susu oleh Nando, habis itu ngulet di sleeping bag lagi. Saya akui, kemanjaan saya benar-benar meningkat setelah setahun penuh tidak mendaki gunung. Setelah puas bermalas-malasan akhirnya saya keluar pondokan, ternyata matahari menyengat dengan tidak malu-malu, panas! Cukup panas untuk mengeringkan baju, celana, dan tas yang pada malem sebelumnya basah karena hujan.

Pada ekspedisi kali ini tim memang tidak terburu-buru karena kami ingin liburan dengan senang! Sambil menikmati sinar matahari, kami masak sarapan dan foto-foto di tepi Ranu Kumbolo. Kami menemukan nisan di dekat tenda kami, ternyata itu adalah nisan mengenang hilangnya seorang pendaki. Ini bukan satu-satunya nisan yang kami temui sepanjang perjalanan.

Setelah makan pagi, datanglah serombongan porter. Setelah diinterogasi, ternyata porter itu disewa oleh segerombolan turis Prancis yang juga ingin mendaki Semeru. Setelah jemuran kering dan perut kenyang, kami memasukkan kembali barang-barang kami ke dalam tas carrier untuk melanjutkan perjalanan. Target hari ini sebetulnya bermalam di Arcopodo, namun karena kami berangkat dari Ranu Kumbolo terlalu siang, maka kami memutuskan untuk bermalam di Kali Mati.

Pada perjalanan menuju Kali Mati masing-masing personil tim berjalan sesuai dengan kecepatannya masing-masing hingga tercipta jarak di antara satu sama lain. Jalur tidak bercabang, teriakan tetap terdengar. Sehingga kami tetap merasa aman. Saya sendiri termasuk kelompok yang berjalan di belakang. Memandang ke depan tidak lagi terlihat teman yang di depan, begitu juga ketika menengok ke belakang. Sendiri. Lebih buruk lagi: senter meredup. Sebenarnya saya membawa baterai cadangan, namun karena terang bulan cukup benderang saya tidak merasa membutuhkan mengganti baterai senter.

Sepanjang perjalanan yang ditemukan adalah semak belukar di sisi kiri dan kanan jalan setapak. Kadang ditemukan juga nisan-nisan dari orang yang dinyatakan hilang atau meninggal di Semeru. Dengan senter yang redup dan hanya mengandalkan terang bulan, tentu suasana jadi sedikit menyeramkan. Bunyi gesekan badan dengan semak kadang masih terdengar walau saya sedang berhenti. Sempat terpikir tentu seru sekali andai tiba-tiba saya dihampiri oleh salah seorang pendaki yang dinyatakan hilang. Sempat terimajinasi rupa pendaki yang hilang itu: kumal, gondrong, brewokan, seram, berbicara tidak jelas, dst. Sayangnya hal ini tidak terjadi hingga saya mencapai Kali Mati dan bergabung dengan personil tim lainnya.

Tenda-tenda sudah didirikan dan makan malam dihabiskan. Tim kemudian sepakat untuk bangun pada pukul 12 tengah malam guna bersiap-siap melaksanakan summit attack.

Hari IV, Sabtu 16 Juli 2005

Akhirnya setelah bangun dan bersiap-siap, tim berangkat menuju puncak pada pukul setengah dua dini hari. Tim bule prancis sudah berangkat lebih dulu dari kami. Perjalanan menuju puncak memang tidak mudah, jalan setapak yang menanjak dan berkelok-kelok membuat kaki saya terasa lebih cepat pegal, pasir yang menutupi seluruh puncak Semeru kadang tertiup angin dan masuk ke dalam mulut, membuat saya batuk-batuk, di atas mulut, pasir itu menyerang mata dan membuat kelilipan, singkat kata: REPOT! Benar sekali yang orang-orang katakan tentang pasir Semeru. Dua langkah kita mendaki, satu langkah kita turun lagi karena pasir yang longsor-longsor kecil. Tapi akhirnya setelah berjalan dan terus berjalan, Puncak Mahameru dapat dicapai.

Puncak dengan kawahnya yang terkenal sering mengeluarkan gas beracun itu memang sangat mengagumkan. Setiap kali bumi bergemuruh, kawah mengeluarkan gas beracunnya disertai lontaran batu-batu cadas. Cukup jauh dari posisi pendaki hingga dapat dikatakan cukup aman, namun cukup dekat untuk dapat melihat dengan jelas.

Dalam perjalanan menuju puncak, saya sering melihat layar telefon genggam. Kadang sinyal muncul, kadang hilang. Hingga akhirnya saya mendapatkan sinyal yang cukup untuk menelfon rumah. Telefon saya diterima oleh Ayah, saya mengabari bahwa sebentar lagi saya akan mencapai Puncak Semeru. Ayah terdengar senang sekali. Saya menanyakan kabar ibu, sayangnya ibu sedang shalat subuh jadi saya titip salam saja. Perjalanan dilanjutkan.

Puncak

Ketika sampai di puncak, saya membuka sepatu dan mengeluarkan pasir yang masuk ke sepatu saya sejak tadi. Setelah itu saya memutuskan untuk berjalan-jalan di puncak, dibandingkan Puncak Rinjani, Puncak Mahameru ini sangat luas. Di puncak ini banyak ditemukan batu nisan untuk mengenang para pendaki yang wafat atau hilang di gunung ini, nisan-nisan itu tidak hanya ditemukan di puncak tapi juga bisa ditemukan di Arcopodo dan Ranu Kumbolo serta beberapa tempat lainnya. Di antara nisan tersebut terdapat juga nisan untuk mengenang tokoh Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. Tokoh Soe Hok Gie banyak dibicarakan orang pada saat kami mendaki gunung ini, karena pada 14 Juli 2005 sebuah film tentang dirinya yang berjudul GIE resmi diputar di bioskop-bioskop terdekat di kota anda. Meninggalnya tokoh ini disebabkan oleh gas beracun yang keluar dari kawah Gunung Semeru ini.

Nisan Soe Hok Gie dan Idhan Lubis

Setelah puas berada di puncak, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan berisitirahat sejenak sebelum berjalan kembali ke Ranu Kumbolo. Namun letihnya tubuh setelah menuju puncak membuat kami beristirahat lebih lama dan baru mencapai Ranu Kumbolo pada pukul 7 malam. Setelah mendirikan tenda dan bersantap malam seperti malam-malam sebelumnya kami beranjak tidur. Hari-hari di Gunung Semeru kami lewati dengan senang penuh tawa dan canda pokoknya hua ha ha ha….

Hari V, Minggu 17 Juli 2005

Kami bangun lalu langsung agak kesal, pasalnya telah terjadi hujan kabut ketika kami tidur dan masih berlangsung ketika kami mulai terjaga. Pasir dari sekitar tepian danau Ranu Kumbolo sepertinya telah tertiup oleh angin dan menyelimuti tenda kami. But the show must go on, kami tetap harus keluar tenda. Walau dalam keadaan kedinginan, kami tetap harus melaksanakan tugas masing-masing seperti mencuci peralatan makan, memasak sarapan, dll. Akhirnya perlahan kabut menghilang dan sinar matahari menguat.

Seiring dengan itu terlihat dari kejauhan seorang bule Jerman yang telah kami kenal sebelumnya, sedang turun menuju Ranu Kumbolo. Ketika sampai, ia mengisi persediaan botol minumnya dan sedikit bercakap-cakap dengan kami, walau tidak tahu namanya, kami memanggilnya Mr. John. Mr. John ini menarik untuk diceritakan karena jarang kami temukan seorang turis bule yang mendaki sendirian tanpa menggunakan jasa guide atau porter. Mr. John ini merupakan contoh yang langka, dari percakapan kami akhirnya kami mengetahui bahwa ternyata ia seorang ahli geologi yang baru lulus master dari universitasnya di Jerman sana.

Setelah Mr. John pamit, kami mulai mengepack barang-barang kami ke dalam carrier, kami berencana pulang hari itu juga.

Setelah berjalan ± 2-3 jam akhirnya kami sampai kembali di pos pertama Ranu Pani. Setelah melahap nasi goreng di warung, kamipun kembali naik jip ke Tumpang, setelah itu dilanjutkan ke Arjosari untuk mencari bis yang arah pulang ke Jakarta. Ketika itu hari sudah malam sekitar pukul sembilan, bis yang langsung ke Jakarta tidak ada. Akhirnya kami berganti-ganti bis hingga keesokan harinya..

Hari VI, Senin 18 Juli 2005

Akhirnya  sampai di Jakarta sekitar pukul 8 malam. Trus lanjut naik taksi ke rumah trus mandi, pake baju, makan bersama keluarga sambil melihat-lihat foto selama perjalanan. Ibu tetap tidak tersenyum. Maaf Bu. Pasti ibu tetap mendoakan walaupun izin tak sampai. Terima kasih Bu.

Pengalaman Berkali-kali Mengalami Penilangan

Sebelumnya, tulisan ini bukan diniatkan untuk berbagi tips bagaimana caranya menghindari penilangan. Tujuan tulisan ini adalah untuk mencari kebenaran prosedur penilangan yang masih blur di kepala saya.

Akhir-akhir ini saya mengendarai mobil untuk keperluan pelaksanaan tugas akhir. Saya bukan orang yang suka melanggar peraturan, karena saya percaya bahwa peraturan itu dibuat pasti ada tujuannya. Jadi ketika berkendara saya menghindari melanggar lampu merah, belok di jalur yang tidak boleh belok, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Namun saya akui satu hal: kadangkala saya mudah bertindak ceroboh.

Sejak pertama kali mengendarai mobil saya sudah beberapa kali menghadapi penilangan. Penilangan pertama yang saya hadapi adalah di Jakarta, tepatnya di perempatan Jl. Pemuda-Jl. Pramuka-Bypass. Waktu itu saya mengambil jalur kanan namun saya tidak bermaksud belok kanan. Saya lurus dari jalur kanan. Akhirnya ada seorang polisi menghampiri saya yang masih sangat hijau soal peraturan lalu-lintas saat itu. Akhirnya selembar Rp50.000,- dari dompet saya berpindah tangan ke polisi tersebut.

Penilangan kedua terjadi di Jakarta ketika saya tidak sengaja memasuki wilayah jalur three in one. Saya kuliah di Bandung dan jarang berada di Jakarta, saya kurang mengenali seluruh seluk-beluk jalan di Jakarta. Saat itu saya sudah mengetahui soal slip biru. Ya sudah, karena saya tahu dan saya akui saya salah, maka saya meminta slip biru. Namun waktu itu polisi di lapangan berkata bahwa slip biru sudah tidak berlaku di Jakarta. Karena saya jarang di Jakarta jadi saya terima saja info tersebut. Akhirnya saya menerima slip merah pada saat itu. Info soal tidak berlakunya slip merah kemudian saya klarifikasi di Kantor Polantas yang terletak di Jl. M.T. Haryono, saya bertanya pada petugas yang berjaga di pintu dan dia memberikan jawaban yang senada dengan petugas di lapangan. Akhirnya saya menjalani persidangan, dan melayanglah uang saya Rp30.000,- sesuai keputusan hakim di pengadilan.

Namun pengalaman saya berikutnya benar-benar berbeda. Saya tidak lagi ditilang oleh polisi setelah saya semakin tahu dan yakin soal slip biru tersebut. Slip biru masih berlaku. Jadi saya sudah siap: jika saya ditilang saya akan minta slip biru setelah saya yakin saya salah (tetap harus mengecek kesalahan terlebih dahulu, jangan sampai kesalahan yang dibuat-buat oleh polisi nakal juga diakui).

Saat itu saya keluar dari Jl. Gegerkalong Girang ke Jl. Setiabudi (Bandung), saya langsung belok kanan ketika sampai di ujung Jl. Gegerkalong Girang. Saya tidak tahu bahwa tidak boleh belok kanan di sana. Akhirnya polisi memberhentikan mobil saya. Saya memperlihatkan sim dan stnk saya lalu meminta polisi tersebut menunjukkan rambu dilarang belok. Karena ternyata memang ada, maka saya mengakui kesalahan saya. Saya meminta slip biru. Polisi tersebut terlihat kaget namun cepat menguasai diri. Ia bilang slip biru merepotkan sehingga tidak diberlakukan oleh pimpinannya. Saya tidak dapat menerima jawaban tersebut, jadi saya tetap meminta slip biru. Karena polisi tersebut bertahan dengan pendapatnya soal perintah pimpinan maka saya meminta untuk berdiskusi langsung dengan pimpinannya (saya tidak terburu-buru pada saat itu, masih ada waktu untuk diskusi). Namun bukannya dipertemukan dengan pimpinan, saya malah dihadapkan dengan sesama polisi lain di lapangan. Beberapa orang polisi berdiskusi langsung dengan saya. Saya berkata “Pak, saya ngerti soal peraturan ini. Keluarga saya juga keluarga yang mengerti kepolisian!!”. Setelah saya berkata demikian polisi tiba-tiba nyengir dan mengembalikan sim dan stnk saya seraya berkata “Wah, kalau keluarga anggota ya sudah. Lain kali hati-hati saja ya Mas…”. Sepertinya saya dikira anggota keluarga kepolisian. Namun kemudian saya sempat tetap meminta slip biru karena saya akui saya salah. Namun sekarang polisi tersebut sepertinya bertahan tidak ingin menilang saya sama sekali. Ya sudah, saya pergi saja. Para polisi itu pun melambaikan tangannya pada saya ketika saya pergi…

Kejadian berikutnya terjadi dua kali lagi di Jakarta dengan jalan cerita yang mirip dengan kasus terakhir saya. Namun ada sedikit perbedaannya. Pada kasus pertama di Jakarta ketika saya langsung meminta slip biru, polisi malah marah dan menuduh saya menantang dia. Setelah saya berkata kembali bahwa saya dari keluarga yang mengerti kepolisian dia berkata tidak akan menilang saya namun dia tetap marah dan menyuruh saya untuk lain kali tidak langsung meminta slip biru. Dia berkata bahwa slip biru itu dendanya lebih mahal jadi sebaiknya minta slip merah saja. Saya malas bicara dengan polisi yang sedang marah-marah ini, jadi saya langsung pergi saja.

Kejadian terakhir baru terjadi kemarin malam. Saya ternyata melewati jalur bus Transjakarta (yang kurang tersosialisasi sebagai jalur bus, terbukti dari banyaknya pelanggar lain selain saya) yang sebenarnya koridornya belum aktif. Namun saya tetap mengakui kesalahan saya dan meminta maaf kemudian tetap langsung meminta slip biru. Sepertinya memang di Jakarta polisi lalu-lintas sepakat untuk merekomendasikan slip merah daripada slip biru (setelah gagal berdamai dengan suap). Mereka juga sudah siap dengan selebaran daftar nominal tilang yang berjudul ‘Tabel Pelanggaran dan Uang Titipan untuk Wilayah Pengadilan Tinggi Jakarta – Lampiran S.K. Wakil Ketua P. T DKI No. 697 Pen. Pid/2005/P.T. DKI Tanggal 01 Oktober 2005’ (yang kemudian berhasil saya minta fotonya).

Tabel Pelanggaran dan Dana Titipan untuk Wilayah Pengadilan Tinggi Jakarta

Berbekal daftar itu polisi lalu merayu saya untuk damai di jalan saja karena menurutnya nominal yang ada di slip biru itu sangat mahal. Saya kemudian kembali mengeluarkan kalimat pamungkas saya “Keluarga saya juga mengerti soal kepolisian Pak.”, namun kali ini ternyata polisi tersebut tetap tenang dan berkata bahwa itu tidak berpengaruh. Saya sempat berpikir bahwa kali ini akhirnya saya harus terima prosedur. Tidak ada penyesalan, karena jika memang ini benar maka saya akan jalani ini. Maka kemudian saya meminta penjelasan lebih lanjut mengenai selebaran tersebut dan slip biru. Polisi tersebut berkata bahwa saya akan diminta untuk membaca selebaran tersebut dan jika saya tetap bersikeras meminta slip biru maka saya akan menuliskan ‘atas permintaan terdakwa’ di slip tersebut sehingga tidak dapat digugat di kemudian hari. Setelah saya ikhlas, keadaan ternyata kembali berbalik. Polisi tersebut berkata “Tapi karena saudara sudah minta maaf tadi dan walau dari keluarga manapun saudara jika sudah meminta maaf ya saya wajib memaafkan…” dan ia tidak jadi menilang saya karena ia sudah memaafkan saya. Saya bingung juga jadinya. Namun karena suasana diskusi sudah cair saya tetap meminta info lebih lanjut soal tabel tersebut. Saya mengatakan bahwa info soal tabel ini akan saya sebarkan pada teman-teman saya yang belum tahu. Polisi itu senang dan kemudian mengizinkan saya untuk mengambil foto selebaran tersebut. Kemudian seraya berkata “Tolong bantu sebarkan ke teman-temannya ya Mas, hati-hati di jalan…” polisi tersebut melepas kepergian saya…

Lima kasus telah saya jalani. Namun masih ada tanda tanya di kepala saya. Soal slip biru itu diberikan jika saya sudah mengakui kesalahan itu saya mengerti. Saya anggap itu penyelesaian yang baik karena menghindari adanya penyelewengan dana oleh petugas di lapangan karena dengan slip biru berarti pembayaran denda tilang dilaksanakan di BRI. Slip merah itu berarti saya tidak mengakui kesalahan dan bersedia di sidang itu juga saya sudah mengerti dan tentu saya hindari. Hal yang lebih saya hindari adalah jalur damai dengan menyuap polisi di lapangan karena membudayakan korupsi dan juga menghindari denda yang jauh lebih tinggi lagi jika saya didakwa atas usaha penyuapan petugas. Yang saya tidak mengerti, mengapa polisi-polisi di Jakarta ini lebih merekomendasikan slip merah daripada biru? Apakah selebaran tabel tilang tersebut benar ada dan berlaku? Karena dari berbagai sumber saya dapat info bahwa penilangan dengan slip biru nominalnya tidak terlalu tinggi yaitu berkisar antara Rp20.000-Rp50.000 sementara di tabel tersebut minimal Rp250.000 dan maksimal Rp1.000.000,-. Mana yang benar?

Jika ada pihak berwenang yang membaca tulisan saya ini, saya mohon berikan sosialisasi yang jelas. Janganlah kami para warga negara ini dibuat bingung dengan implementasi peraturan yang ada.

– Himpunan, Bandung –

referensi: http://nasional.kompas.com/read/2008/12/13/19241988/function.session-start

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.