Tertinggalnya Pengelolaan Sampah Banda Aceh

Islam telah nyata memerintahkan umatnya untuk menghindari perilaku yang menghasilkan sampah (Al’Isra: 27 dan Al-An’am: 141) dan menjaga kebersihan (Al-Baqarah: 222). Namun kenyataannya hal ini masih belum sanggup kita tunaikan. Padahal, dibandingkan dengan ibukota lainnya di Indonesia, jumlah penduduk Kota Banda Aceh tidak banyak. Hanya sekitar 254.904, jauh di bawah rata-rata jumlah penduduk ibukota lainnya di Indonesia yaitu 1.020.790. Selayaknya dengan jumlah penduduk yang tidak banyak, sistem pengelolaan permukiman seperti pengelolaan sampah semestinya dapat dimaksimalkan. Namun, sistem pengelolaan sampah di Banda Aceh dapat dikatakan kuno dan perkembangannya pun lambat sehingga tertinggal jika dibandingkan dengan ibukota lainnya di Indonesia, apalagi di dunia yang sudah berkiblat ke sistem nol sampah (zero waste). Sistem pengelolaan sampah dapat dibagi menjadi 5 sub-sistem yaitu peran serta masyarakat, peraturan, kelembagaan, pembiayaan, dan teknis operasional.

Dalam pelaksanaan peran serta masyarakat, masyarakat Banda Aceh seringkali divonis tidak memiliki kesadaran yang cukup mengenai kebersihan dan pengelolaan sampah. Sebenarnya tidak demikian, indikasinya adalah kebiasaan berbagai gampong melaksanakan kerja bakti secara berkala. Jumlah komunitas peduli lingkungan di Banda Aceh pun ada lebih dari 50 komunitas. Komunitas-komunitas ini aktif melaksanakan berbagai kegiatan seperti kerja bakti, diskusi, kampanye, dan aksi-aksi lainnya. Antara lain aksi bersama yang patut mendapat apresiasi adalah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang rutin dilaksanakan setiap bulan Februari tiga tahun terakhir. Dalam setiap peringatan tersebut, walikota yang menjabat selalu membacakan Deklarasi Indonesia Bebas Sampah. Selain itu pada Oktober 2017 lalu, komunitas-komunitas lingkungan di Banda Aceh bersama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh menjadi penyelenggara Jambore Bergerak Indonesia Bebas Sampah 2020 yang didukung pemerintah pusat dan dihadiri oleh 234 peserta dari 22 provinsi di Indonesia.

Memang masih sering pula ditemui masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke pinggir jalan dan sungai. Juga masih banyaknya masyarakat dan bahkan instansi pemerintah yang membakar sampah. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai hak dan kewajibannya dalam tata cara mengelola sampah yang bertanggungjawab. Pemerintah Kota Banda Aceh semestinya mampu mengedukasi dan menertibkan perilaku masyarakat yang belum bertanggungjawab. Puluhan komunitas lingkungan yang ada telah menyatakan diri siap membantu mengedukasi masyarakat namun tidak akan bisa memberikan dampak nyata apabila tidak harmonis pergerakannya dengan penegakkan hukum oleh Pemerintah Kota.

Kota Banda Aceh tidak kekurangan payung hukum dalam melaksanakan pengelolaan sampah yang baik. Lima tahun sebelum Pemerintah Indonesia menerbitkan UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Pemerintah Kota Banda Aceh telah lebih dulu menerbitkan Qanun No. 5 Tahun 2003 Tentang Kebersihan dan Keindahan. Papan sosialisasinya masih dapat kita temukan di Peunayong. Kini Qanun tersebut telah diperbarui dengan Qanun No. 1 Tahun 2017 Tentang Pengelolaan Sampah. Penertiban pengelolaan Sampah Kota Banda Aceh dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan keberadaan UU dan Qanun tersebut, selain juga tersedianya PP No. 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, Permen Dagri No. 33 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pengelolaan Sampah, Permen PU No. 3 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Berbagai peraturan tersebut telah menjelaskan dengan terang-benderang mengenai hak dan kewajiban setiap pihak dalam pengelolaan sampah. Mulai dari pelarangan bakar sampah dan buang sampah sembarangan yang pelanggarnya didenda maksimum Rp.10.000.000 (sesuai UU 18/2008 Ps. 29 dan Qanun 1/2017 Ps. 40), kewajiban penyelenggara acara dalam mengelola sampah acara, serta kewajiban pengelola area komersial dan perkantoran serta pemerintahan gampong dalam mengelola sampahnya sendiri.

Sudah sering muncul dalam pemberitaan mengenai penindakan dan pengadilan terhadap pelanggar peraturan persampahan di kota-kota lain seperti Jakarta, Depok, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya. Bahkan pada bulan Agustus tahun 2014, Wali Kota Bandung yaitu Ridwan Kamil pernah dilaporkan oleh masyarakat Kota Bandung ke Ombudsman karena dinilai lalai dalam menerapkan peraturan persampahan. Setelah dilaporkan, Ridwan Kamil segera berbenah dan pada bulan Desember tahun 2014 berbagai peraturan persampahan telah mulai diterapkan termasuk adanya pemeriksaan kendaraan yang memasuki Kota Bandung dan denda bagi yang tidak menyediakan tempat sampah di dalam kendaraan. Kapan Banda Aceh menyusul?

Dalam sub sistem kelembagaan, Pemerintah Kota Banda Aceh harus lebih aktif dalam memimpin penyelenggaraan pengelolaan sampah dan tidak hanya bertumpu pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota (DLHK3) namun dapat melibatkan dinas lainnya seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kominfo, dan lainnya. Secara garis besar, arahan nasional telah diberikan melalui Kebijakan dan Strategi Persampahan Nasional (Jakstranas) yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 yang juga membagi tugas pengelolaan sampah ke kementerian lainnya selain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tahun ini Walikota Banda Aceh diwajibkan untuk menyusun dan melaksanakan Kebijakan dan Strategi Persampahan Daerah (Jakstrada) dan terancam tidak mendapat adipura apabila tidak berhasil membuat Jakstrada.

Kinerja DLHK3 selama ini banyak terhambat oleh perencanaan yang tidak matang, keberanian dalam berinovasi, dan ketersediaan anggaran. Masterplan persampahan Banda Aceh terakhir dibuat tahun 2007, merupakan masterplan darurat pasca tsunami yang disarankan diperbarui pada tahun 2012 namun tidak terlaksana. Memang saat ini sedang dilaksanakan pembuatan Perencanaan Teknis Manajemen Persampahan (PTMP). Namun di tengah pembuatannya, Pemerintah Kota Banda Aceh terus membuat inisiatif-inisiatif baru yang membuat pelaksanaan pengelolaan sampah terkesan terombang-ambing tidak jelas arahnya. Inisiatif terkini adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Gampong Jawa. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Gubernur Irwandi Yusuf pada bulan November 2017 yang menyatakan TPA Gampong Jawa perlu ditutup, dipindahkan sampahnya ke TPA Blang Bintang, dan direhabilitasi untuk diangkat kembali marwahnya sebagai makam kerajaan Aceh. Justru inisiatif yang sebelumnya telah diapresiasi berbagai pihak yaitu Waste Collecting Point atau WCP malah terhambat perkembangannya akibat tidak mendapat anggaran dan dukungan yang cukup sehingga sejak 3 tahun lalu baru terlaksana di 3 gampong, itupun tersendat-sendat. Keberanian DLHK3 Banda Aceh dalam mengajukan anggaran dan kesadaran para anggota DPRK yang kita harapkan terhormat dalam memenuhi kebutuhan anggaran pengelolaan sampah perlu ditingkatkan.

Dalam sub-sistem teknis operasional, skema pengelolaan sampah di Banda Aceh masih menggunakan skema kumpul-pindah-angkut-buang yang tidak menyelesaikan masalah namun hanya memindahkannya hingga bertumpuk di TPA. Pengelolaan sampah secara teknis dalam berbagai standar di Indonesia dibagi menjadi dua upaya yaitu pengurangan dan penanganan. Dalam Jakstranas, pada tahun 2018 ini ditargetkan upaya pengurangan sampah diterapkan untuk 18% sampah sedangkan 73% sisanya ditangani dengan upaya penanganan sampah. Sementara di Banda Aceh, jangankan pengurangan atau penanganan, dapat kita lihat masih banyak sampah yang bahkan tidak terkelola karena masih banyaknya sampah dibakar, dibuang ke sungai, dan lainnya. Sehingga bagi Pemerintah Kota Banda Aceh pekerjaan rumah utama dalam pengelolaan sampah adalah mengejar pengelolaan sampah 100%.

Untuk mewujudkan Banda Aceh Bebas Sampah 2025, hal paling mudah yang dapat dimulai hari ini oleh Pemerintah Kota Banda Aceh adalah memberi contoh di kantor-kantor pemerintah dimulai dari rapat-rapat dan acara-acara yang tidak menghasilkan sampah (KLHK telah membuat pedoman yang mudah diikuti), pemilahan sampah, pengadaan bank sampah, dst. Dalam sambutannya di peluncuran aplikasi E-Berindah kemarin, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman sempat membuat pernyataan meningkatnya jumlah sampah Banda Aceh perlu disyukuri karena itu indikasi peningkatan ekonomi. Itu paradigma lama, kini pertumbuhan ekonomi bisa sejalan dengan kebaikan ekologi melalui penerapan ekonomi melingkar (circular economy). Pemerintah memiliki kekuatan untuk mendorong diterapkannya ekonomi melingkar dengan mendorong tumbuhnya usaha-usaha yang ramah lingkungan, pengurangan dan penanganan sampah oleh pelaku industri (bekerja sama dengan pemerintah pusat) dan daur ulang sampah yang masih dihasilkan. Kita para warga juga dapat berpartisipasi dengan mengurangi sampah kita melalui upaya-upaya sederhana seperti membawa kantong belanja sendiri dan menolak plastik dalam berbagai bentuk (kantong plastik, botol minum sekali pakai, sedotan, sendok-garpu disposable, dll), mengompos sampah organik di rumah masing-masing, dll.


Ditulis oleh Zulfikar, warga Banda Aceh, alumni Teknik Lingkungan ITB, Pendiri Wirausaha Sosial Waste4Change dan berprofesi sebagai Tenaga Ahli Lingkungan dan Persampahan

Iklan

Pindah Blog

 

Pindah ke haiizul.wordpress.com. Supaya seragam dengan akun-akun lainnya. Hehehe…

Karyawan Siang dan Seniman Malam

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan gue dan temen gue kemaren di kampus. Gue udah lama ga ktemu dia dan dia ga keliatan sesemangat biasanya. Dia keliatan lebih lesu sedikit. Ternyata keseharian dia bikin dia sekarang jadi kaya gitu…
Sebelumnya gue harus cerita dia dulunya kaya apa. Dia dulu adalah aktivis kampus yang lumayan terkenal, tiap kali gue ketemu dia pasti dia menyapa gue dengan semangat 45. Jangan bayangin dia tipe aktivis yang demo ke jalan, bukan itu. Dia tipe yang sigap hadir di tiap daerah yang kena bencana. Dia juga sering ada di posko-posko bantuan donasi. Dia bener-bener mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya buat pengabdian masyarakat. Dia bilang dia sangat menikmati momen ketika dia turun ke lapangan.
Tapi sekarang dia kehilangan momen itu. Alasannya adalah tuntutan untuk mulai menghidupi diri dan juga mungkin menghidupi orang lain, alias pekerjaan. Bukan hal aneh ya, ini umum banget. Ada sebagian orang yang ngerasa, ada juga yang ngga. Ada yang bisa terpuaskan dengan berdonasi dengan uang hasil pekerjaannya untuk kegiatannya, tapi ga demikian dengan temen gue yang satu ini. Momennya ga dapet katanya. Tapi gue salut dia masih gelisah, karena banyak yang udah menyerah. “Eh, kok lo ga pernah ikutan blablabla (apapun kegiatan idealismenya dulu) lagi?”, “Ga sempet gue. Sekarang gue pulang kantor jam 4 trus di jalan 2 jam, sampe rumah capek, dst…”. Sering tuh kedengaran gitu…
Setelah setahun lebih gue berkarir di Jakarta, gue menemukan banyak orang yang sukses menyiasati tuntutan pekerjaan dan ribetnya kehidupan kota. Inilah yang gue bilang karyawan siang dan seniman malam. Mereka adalah orang-orang yang berjuang mengatur waktu kesehariannya dan memaksa diri untuk bisa menyeimbangkan kantong (duit) dan jiwanya (idealisme). Mereka bekerja di siang hari untuk menghidupi diri lalu meluangkan malam untuk mengobati dahaga jiwa. Butuh effort lebih pastinya.
Orang kaya gini ternyata juga tidak sedikit, wadahnya pun juga makin banyak. Banyak diskusi dibikin di malam hari dan seringkali ada rapat komunitas malem-malem buat bahas kegiatan komunitas itu sendiri.
Effort lebih yang gue liat di sekitar gue lebih gila dari yang dulu gue kira. Gue pernah rapat di daerah Menteng sampe hampir jam 12 malem, pas bubaran gue baru tau rumah 1/3 peserta rapat pada di Cibubur dan sisanya juga ga ada yang di Menteng. Gue waktu itu ikut rapat sampe jam segitu karena toh kantor gue masuk jam 9-an dan cukup longgar. Yah tapi mereka yang rumahnya jauh rata-rata pada mulai aktivitas pagi sekitar jam 7. Latian aikido juga gitu, orang-orang yang pingin peningkatan skillnya maksimal pada deliberate practice, walaupun rumahnya jauh latian sampe jam 11 atau 12 malem. Cukup edan buat gue. Bener-bener bikin malu kalo gue cuma gitu- gitu doang.
Hiduplo pilihanlo, bisa lo atur semaksimalnya buat lo sendiri. Bung Yoris yang kreatif itu punya caranya sendiri, dia membagi waktunya 70% buat kumpulin duit, 20% buat ngelakuin hal yang anak gila tapi ngehasilin duit, dan 10% buat hal yang benar-benar gila. Gue ga ngajak lo buat bagi waktulo persis kaya gitu, bisa beda-bedalah… Gue nulis ini karena gue pingin ajak temen gue itu, juga lo, dan buat memantapkan gue sendiri juga bahwa masih bisa berkarya walaupun tuntutan hidup bikin makin sibuk. Makin disiplin yuk ah.

‘Tanya kenapa.’

Barusan gue menghapus blog friendster gue. Sebelumnya walaupun lama dicuekin tapi ga pernah diapus. Tapi ternyata akhir-akhir ini blog itu sering mendapat serangan spam. Jadi supaya ga bikin inbox gue penuh ya gue hapuslah blog itu. Tapi sebelum dihapus tentunya semua tulisan dan komentar disalin ke satu dokumen sendiri, ini kenangan berharga yang ga boleh dihapus gitu aja. Gue baca-baca juga tulisan-tulisan gue dulu. Menarik. Kembali ke masa lalu saat kelas tiga sma sampai bulan-bulan pertama kuliah. Ada satu tulisan yang pingin gue bagi di sini. Tulisan jaman gue mulai banyak bertanya. Silakan dijelajahi, judulnya: ‘Tanya kenapa.’

 

Tanya kenapa.

Hari ini, setelah sahur.
Gw tidur, gw bermimpi bahwa gw naik gunung lagi. Tapi aneh, di kaki gunung tanahnya pada berantakan, ada traktor yang lagi ngebongkar tanah. Kayaknya di kaki gunung itu mo dibikin sesuatu. Gw sedih. Trus gw lanjutin perjalanan, gw ketemu dengan temen gw yang hubungan gw dengan dia selama ini ga enak. Kebetulan ketemu di gunung, gw sekalian aja ajak ngobrol dan minta maap. Kemudian mimpi gw seperti dipercepat, gw bertemu dengan 2 anak kecil cewek yang lucu. Gw ngobrol banyak dengan mereka, akrab banget… Kayaknya gw ga akan bosen ngobrol dengan mereka, tapi akhirnya terjadi perpisahan. Gw harus pulang ke kota, dalam mimpi gw itu entah kenapa gw menangis, mungkin kareana perpisahan? Setelah itu gw terjaga lagi. Trus gw nyalain tv, liat berita. Parah banget, berita pagi ini dipenuhi dengan berita tentang penderitaan rakyat akibat bbm naek, abis itu ada berita flu burung yang udah menjalar ke Yunani, abis itu masih ada berita serangan udara Amerika terhadap negara Islam, katanya buat membasmi teroris tapi sebagian besar yang meninggal orang-orang sipil. Ngliat itu semua, gw jadi lemes. Kenapa di dunia ini banyak banget masalah? Kenapa banyak orang suka nyelesain masalah dengan masalah? Kenapa banyak orang mungkin termasuk gw ga bisa belajar dari pengalaman dan menjadi lebih wise dalam mengambil keputusan? Kenapa kita masih tercerai-berai? Kenapa ada negara maju yang sedemikian maju sehngga kelebihan makanan tapi masih ada negara yang penduduknya mati kelaparan? Kenapa kita diam setelah melihat kenyataan? Kenapa banyak di antara kita cuma bisa ngomentarin dari belakang atau cuma bisa ngomel di depan tv? Kenapa kita gak ambil tindakan nyata?
Abis itu gw kuliah dengan males. Lesu. Perasaan gw campur-aduk. Gw sendiri ga ngerti knapa otak gw yang biasanya cuek-cuek aja, hari ini jadi penuh dengan masalah-masalah kemanusiaan di satu sisi dan kangen gunung di sisi lainnya.
Gw ga ngerti.

 

Pilihan Hidup

Sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Beberapa bulan terakhir saya dihadapkan dengan tantangan mengurus jalur dan arah hidup secara lebih mandiri. Ya, seorang sarjana memang sudah harus mampu berdikari. Tidak perlu menunggu lulus sebenarnya saya sudah punya rencana hidup saya. Tapi pelaksanaannya tentu lebih seru daripada perencanaannya.

Saya tau bahwa saya bukan orang yang senang dikekang. Tentu saja, saya pikir siapa sih manusia berpikir yang suka dikekang? Tentu saya ingin bebas berpikir, berkarya, beropini, bebas melakukan apa yang ingin saya lakukan dan tentunya siap menerima konsekuensi apapun dari tingkah laku saya. Saya ingin bebas.

Hidup yang ideal di kepala saya adalah hidup yang dinamis, selalu berkembang dan jauh dari rutinitas yang melumpuhkan jiwa petualang. Oke, dua itu saja dulu. Saya ingin hidup bebas dan dinamis. Dari dua keinginan saya tadi saya memutuskan bahwa saya tidak ingin bekerja di perusahaan besar. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Maaf, tapi saya rasa sebagian besar perusahaan besar yang ada tidak hanya membuat hidup untuk kerja tapi justru membuat mati (mati jiwa, idealisme, dll). Oke, kita memang bisa bertahan dan tetap menjadi diri sendiri walau berada dalam perusahaan besar. Tapi daripada sekedar bertahan, saya lebih suka maju menerjang. Jadi pilihan saya bukan pada perusahaan besar, saya jauh lebih memilih membesarkan perusahaan. Semoga ini dapat menjelaskan jika ada rekan yang bingung mengapa saya tidak pernah melamar pekerjaan di perusahaan besar dan malas ikut hadir dalam job fair.

Memang ada beberapa perkecualian, saya mengikuti tes cpns di beberapa kementerian negara. Alasannya adalah: saya ingin berkarya nyata di bidang yang telah saya pelajari di pendidikan sarjana saya yaitu teknik lingkungan. Menjadi pegawai negeri di beberapa kementerian dapat menjadi jalur yang sangat baik untuk pencapaian hal ini. Namun saya sadar sepenuhnya bahwa itu bukanlah satu-satunya jalur berkarya di bidang saya. Selalu ada cara untuk berkarya dan saya telah menggelutinya sebelum mengikuti tes cpns. Akhirnya saya tidak lulus dari tes tersebut. Ya sudah, semoga yang terpilih dapat optimal berkarya di sana dan saya akan berkarya dengan jalur lain. Semoga bersama-sama kami bisa memperbaiki Indonesia dan dunia.

Lalu jika saya ingin hidup bebas, dinamis, dan mampu berkarya pada bidang saya (teknik lingkungan terutama sanitasi) mengapa saya memilih pekerjaan saya sekarang di perusahaan bidang pendidikan? Bidang pendidikan memang juga menjadi minat saya walau bukan yang utama. Menyenangkan melihat orang-orang berkembang secara nyata, hal ini sering terlihat di dunia pendidikan. Walau demikian, pekerjaan saya saat ini bukan untuk mendidik namun untuk menyebarkan pentingnya pendidikan yang benar. Bagaimana pendidikan yang benar mungkin akan saya tuliskan lain kali. Nah, dalam pekerjaan ini saya harus banyak berkeliling ke tempat-tempat baru. Ini cocok dengan pilihan hidup saya yang dinamis. Perusahaan saya belum menjadi perusahaan besar, banyak kebebasan yang bisa saya nikmati sambil turut serta berusaha membesarkan perusahaan. Salah satu kebebasan yang bisa saya nikmati adalah kebebasan untuk tetap berkarya pada bidang sanitasi. Hal terakhir ini sudah saya tekankan sejak pertama kali saya bersedia bergabung dengan perusahaan.

Kurang lebih inilah yang saya inginkan saat ini, pekerjaan yang menyenangkan dan mampu mendukung penghidupan saya serta kebebasan untuk tetap melaksanakan passion saya. Tentu bukan berarti saya akan stop di sini. Ini adalah permulaan yang baik.

A man can be free without being great, but no man can be great without being free.
(Kahlil Gibran’s letter May 16,
1913.)

-Argo Parahyangan, 13 Februari 2011-

Sang Idealis Telah Menjadi Sang Visioner

Ini tentang hasil tes kepribadian saya yang saya ambil kembali, ternyata hasilnya berubah. Tes sebelumnya mengatakan bahwa saya adalah seorang yang idealis. Sebenarnya saya merasa cocok-cocok saja dengan deskripsi seorang idealis yang dimaksud (baca: Saya Seorang Idealis). Namun memang ada satu faktor yang meragukan. Sang idealis memiliki empat ciri kepribadian, yaitu: introverted, intuition, feeling, perceiving.  Saya rasa (dan begitu juga dengan banyak teman yang melakukan protes) saya bukanlah seorang yang introverted. Saya jelas extraverted, sangat mudah bagi saya menceritakan persoalan pribadi saya pada teman-teman saya.

Selain satu faktor yang menjadi faktor utama tersebut, kegiatan yang saya alami akhir-akhir ini, tontonan, dan bacaan saya sepertinya juga sangat mempengaruhi kepribadian saya. Selain extraverted, saya juga merasa ada hal lain yang berubah menjadi tidak sesuai. Maka akhirnya saya mengambil lagi tes tersebut sebelum saya menulis artikel ini. Hasilnya: saya visioner. Sang visioner memiliki empat ciri yaitu ENTP: extraverted, intuitive, thinking, perceiving. Paparan lebih lengkap mengenai karakter seorang visioner ENTP dapat dilihat pada artikel berikut yang diambil dari http://www.personalitypage.com/ENTP.html.

The Visionary

As an ENTP, your primary mode of living is focused externally, where you take things in primarily via your intuition. Your secondary mode is internal, where you deal with things rationally and logically.

With Extraverted Intuition dominating their personality, the ENTP’s primary interest in life is understanding the world that they live in. They are constantly absorbing ideas and images about the situations they are presented in their lives. Using their intuition to process this information, they are usually extremely quick and accurate in their ability to size up a situation. With the exception of their ENFP cousin, the ENTP has a deeper understanding of their environment than any of the other types.

This ability to intuitively understand people and situations puts the ENTP at a distinct advantage in their lives. They generally understand things quickly and with great depth. Accordingly, they are quite flexible and adapt well to a wide range of tasks. They are good at most anything that interests them. As they grow and further develop their intuitive abilities and insights, they become very aware of possibilities, and this makes them quite resourceful when solving problems.

ENTPs are idea people. Their perceptive abilities cause them to see possibilities everywhere. They get excited and enthusiastic about their ideas, and are able to spread their enthusiasm to others. In this way, they get the support that they need to fulfill their visions.

ENTPs are less interested in developing plans of actions or making decisions than they are in generating possibilities and ideas. Following through on the implementation of an idea is usually a chore to the ENTP. For some ENTPs, this results in the habit of never finishing what they start. The ENTP who has not developed their Thinking process will have problems with jumping enthusiastically from idea to idea, without following through on their plans. The ENTP needs to take care to think through their ideas fully in order to take advantage of them.

The ENTP’s auxiliary process of Introverted Thinking drives their decision making process. Although the ENTP is more interested in absorbing information than in making decisions, they are quite rational and logical in reaching conclusions. When they apply Thinking to their Intuitive perceptions, the outcome can be very powerful indeed. A well-developed ENTP is extremely visionary, inventive, and enterprising.

ENTPs are fluent conversationalists, mentally quick, and enjoy verbal sparring with others. They love to debate issues, and may even switch sides sometimes just for the love of the debate. When they express their underlying principles, however, they may feel awkward and speak abruptly and intensely.

The ENTP personality type is sometimes referred to the “Lawyer” type. The ENTP “lawyer” quickly and accurately understands a situation, and objectively and logically acts upon the situation. Their Thinking side makes their actions and decisions based on an objective list of rules or laws. If the ENTP was defending someone who had actually committed a crime, they are likely to take advantage of quirks in the law that will get their client off the hook. If they were to actually win the case, they would see their actions as completely fair and proper to the situation, because their actions were lawful. The guilt or innocence of their client would not be as relevant. If this type of reasoning goes uncompletely unchecked by the ENTP, it could result in a character that is perceived by others as unethical or even dishonest. The ENTP, who does not naturally consider the more personal or human element in decision making, should take care to notice the subjective, personal side of situations. This is a potential problem are for ENTPs. Although their logical abilities lend strength and purpose to the ENTP, they may also isolate them from their feelings and from other people.

The least developed area for the ENTP is the Sensing-Feeling arena. If the Sensing areas are neglected, the ENTP may tend to not take care of details in their life. If the Feeling part of themself is neglected, the ENTP may not value other people’s input enough, or may become overly harsh and aggressive.

Under stress, the ENTP may lose their ability to generate possibilities, and become obsessed with minor details. These details may seem to be extremely important to the ENTP, but in reality are usually not important to the big picture.

In general, ENTPs are upbeat visionaries. They highly value knowledge, and spend much of their lives seeking a higher understanding. They live in the world of possibilities, and become excited about concepts, challenges and difficulties. When presented with a problem, they’re good at improvising and quickly come up with a creative solution. Creative, clever, curious, and theoretical, ENTPs have a broad range of possibilities in their lives.

Jungian functional preference ordering for ENTP:

Dominant: Extraverted Intuition
Auxiliary: Introverted Thinking
Tertiary: Extraverted Feeling
Inferior: Introverted Sensing

The Visionary

As an ENTP, your primary mode of living is focused externally, where you take things in primarily via your intuition. Your secondary mode is internal, where you deal with things rationally and logically.

With Extraverted Intuition dominating their personality, the ENTP’s primary interest in life is understanding the world that they live in. They are constantly absorbing ideas and images about the situations they are presented in their lives. Using their intuition to process this information, they are usually extremely quick and accurate in their ability to size up a situation. With the exception of their ENFP cousin, the ENTP has a deeper understanding of their environment than any of the other types.

This ability to intuitively understand people and situations puts the ENTP at a distinct advantage in their lives. They generally understand things quickly and with great depth. Accordingly, they are quite flexible and adapt well to a wide range of tasks. They are good at most anything that interests them. As they grow and further develop their intuitive abilities and insights, they become very aware of possibilities, and this makes them quite resourceful when solving problems.

ENTPs are idea people. Their perceptive abilities cause them to see possibilities everywhere. They get excited and enthusiastic about their ideas, and are able to spread their enthusiasm to others. In this way, they get the support that they need to fulfill their visions.

ENTPs are less interested in developing plans of actions or making decisions than they are in generating possibilities and ideas. Following through on the implementation of an idea is usually a chore to the ENTP. For some ENTPs, this results in the habit of never finishing what they start. The ENTP who has not developed their Thinking process will have problems with jumping enthusiastically from idea to idea, without following through on their plans. The ENTP needs to take care to think through their ideas fully in order to take advantage of them.

The ENTP’s auxiliary process of Introverted Thinking drives their decision making process. Although the ENTP is more interested in absorbing information than in making decisions, they are quite rational and logical in reaching conclusions. When they apply Thinking to their Intuitive perceptions, the outcome can be very powerful indeed. A well-developed ENTP is extremely visionary, inventive, and enterprising.

ENTPs are fluent conversationalists, mentally quick, and enjoy verbal sparring with others. They love to debate issues, and may even switch sides sometimes just for the love of the debate. When they express their underlying principles, however, they may feel awkward and speak abruptly and intensely.

The ENTP personality type is sometimes referred to the “Lawyer” type. The ENTP “lawyer” quickly and accurately understands a situation, and objectively and logically acts upon the situation. Their Thinking side makes their actions and decisions based on an objective list of rules or laws. If the ENTP was defending someone who had actually committed a crime, they are likely to take advantage of quirks in the law that will get their client off the hook. If they were to actually win the case, they would see their actions as completely fair and proper to the situation, because their actions were lawful. The guilt or innocence of their client would not be as relevant. If this type of reasoning goes uncompletely unchecked by the ENTP, it could result in a character that is perceived by others as unethical or even dishonest. The ENTP, who does not naturally consider the more personal or human element in decision making, should take care to notice the subjective, personal side of situations. This is a potential problem are for ENTPs. Although their logical abilities lend strength and purpose to the ENTP, they may also isolate them from their feelings and from other people.

The least developed area for the ENTP is the Sensing-Feeling arena. If the Sensing areas are neglected, the ENTP may tend to not take care of details in their life. If the Feeling part of themself is neglected, the ENTP may not value other people’s input enough, or may become overly harsh and aggressive.

Under stress, the ENTP may lose their ability to generate possibilities, and become obsessed with minor details. These details may seem to be extremely important to the ENTP, but in reality are usually not important to the big picture.

In general, ENTPs are upbeat visionaries. They highly value knowledge, and spend much of their lives seeking a higher understanding. They live in the world of possibilities, and become excited about concepts, challenges and difficulties. When presented with a problem, they’re good at improvising and quickly come up with a creative solution. Creative, clever, curious, and theoretical, ENTPs have a broad range of possibilities in their lives.

Jungian functional preference ordering for ENTP:

Dominant: Extraverted Intuition
Auxiliary: Introverted Thinking
Tertiary: Extraverted Feeling
Inferior: Introverted Sensing

Manusia Belajar dari Kehidupannya

Hari Jumat kemarin saya menemani ibu keliling-keliling Rawamangun cari tempat beli kolang-kaling (hey it’s a rhyme). Ternyata hari beranjak sore dan ibu teringat belum shalat dzuhur. Akhirnya kami singgah di masjid sekolah saya dulu. Masjid di lingkungan SD Muhammadiyah 24 Rawamangun, Jakarta Timur.Sementara ibu shalat, saya mampir ke kantor guru. Tidak ramai, tapi saya menemukan dua guru SD saya di sana. Mereka memang sudah menjadi lebih tua, tapi tidak terlalu berbeda dengan ketika mengajar saya dulu. Padahal sudah 10 tahun lebih, tapi perubahan mukanya tampak baru bertambah beberapa tahun. Orang bilang jadi guru memang bisa membuat awet muda. Malah dulu di SD saya ini guru olahraga ada dua, satu muda satu lebih tua. Belakangan baru saya ketahui kalau ternyata yang tua itu adalah guru olahraga yang mengajar guru olahraga yang lebih muda waktu si guru olahraga muda masih SD. Ternyata guru olahraga tua sudah setua itu. Sama sekali tidak terduga.Selain ngobrol dengan kedua guru yang ada di kantor, saya mencari satu poster yang selalu menarik perhatian saya sejak SD dulu. Ternyata poster itu masih ada.

Kata-kata dalam poster itu menarik sekali. Begini kata-katanya:

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya, yaitu cinta kepada Khaliqnya.

Kata-kata itu dilihat setiap hari oleh guru-guru SD saya. Mempengaruhi  gaya mengajar mereka. Masa belajar di SD memang masa yang menyenangkan. Benar sekali kata-kata itu, anak-anak memang belajar dari kehidupannya. Saya belajar dari kehidupan saya.

Semua yang telah saya lalui adalah yang membentuk diri saya. Semuanya. Segala pengalaman bermain, belajar, susah, senang, sedih, semuanya. Saya hari ini menjadi orang yang berani mencoba sesuatu yang baru mungkin karena jarang ada yang pernah menghukum atau memarahi saya kalau saya berbuat sesuatu yang berbeda, saya selalu punya cara untuk melampiaskan isi pikiran saya. Saya hari ini juga menjadi orang yang lempeng, kurang semangat bersaing, mungkin juga karena sejak kecil jarang terlibat dalam persaingan seperti misalnya olahraga kompetisi.

Orang lain pun pasti dibentuk oleh kehidupannya. Jangan heran jika ada orang yang suka marah-marah, tanyakan saja padanya apa kisah hidupnya sampai ia menjadi pemarah. Tanyakan saja! Mungkin dengan menanyainya ia menjadi sadar dan mencoba berubah (jika ia merasa perlu mengubah dirinya). Dari jawabannya pun kita dapat mengambil pelajaran bagi diri kita, untuk diri kita sendiri atau untuk mengajari keturunan kita nanti. Ini menarik. Saya melihat ayah saya, dan saya tahu apa kisah masa kecilnya yang menjadikan dia seperti itu sehingga saya bisa mempelajari bagaimana seharusnya saya menyediakan pengalaman hidup bagi anak saya nantinya.

Mungkin memang masih panjang, masih lama. Tapi tidak ada salahnya dirintis hari ini. Alhamdulillah hidup belum berakhir, hari ini usia saya 23 tahun lebih 4 bulan dan beberapa hari, semoga masih banyak waktu bagi saya. Masih banyak pengalaman yang bisa mengajarkan saya. Life will always be a great adventure. Yeah!!

Iklan