Ini adalah cerita mengenai perjalanan ke Puncak Gunung Semeru yang saya dan teman-teman lakukan pada pertengahan 2005, lima tahun yang lalu. Perjalanan ini saya laksanakan tanpa mendapat izin dari ibu. Bukan sesuatu yang perlu dicontoh. Saat itu, hingga hari ini, saya sangat ingin naik gunung. Sayangnya perjalanan ini merupakan terakhir kalinya saya naik gunung. Saya harap tahun ini saya bisa kembali naik gunung.
A Journey To Mahameru
At last… Saya kembali berada di sini, di tengah suasana ibukota yang sudah sejak Rabu 13 Juli kemarin sampai hari ini Senin 18 Juli 2005 saya tinggalkan untuk mendaki Semeru. Akhirnya setelah tahun lalu saya mendaki Gunung Rinjani 3.726 m dpl dan berhasil mencapai puncak pada tanggal 16 Juli 2004 pukul 06.23 saya naik gunung lagi, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, target kali ini adalah Puncak Mahameru, 3.676 m dpl.
Pendakian kali ini diikuti oleh para anggota ELPALA (Enam Lapan Pecinta Alam): Nando (XIX), David/Konde (XVI), Hafidza/Tie-tie (XIX), Meta (XVIII), Teguh (XVII), Yoga Pratama/Tama (XIV), dan gw sendiri Zulfikar/Ijul (XVIII) serta 2 anggota menyusul setelah mendaki Gunung Lawu: Bakti (VII) dan Asa (XX).

- Tim Pendaki
Hari I, Rabu 13 Juli 2005
Setelah belanja persediaan makanan pada tanggal 12 Juli, tim berkumpul di SMA N 68 pada keesokan harinya untuk memulai ekspedisi kali ini. Saya sendiri baru berangkat setelah mencium lutut ibu yang hingga keberangkatan tidak juga memberikan izin pada saya. Bulan depan saya mulai berkuliah, mungkin semakin jarang kesempatan naik gunung bersama ELPALA. Saya bersikeras, saya tetap berangkat walau ibu melarang. Pergolakan batin tentu terjadi hingga akhirnya mantap membangkang. Persiapan sudah maksimal, fisik dan logistik. Baik, berangkat. Maaf Bu.
Tim berkumpul pada jam 10 pagi dan kemudian berangkat menuju Stasiun Senen untuk membeli tiket KA Matarmaja seharga Rp55.000,- dengan jadwal keberangkatan Pukul 14.10. Setelah berkutat dengan para calon pembeli lainnya, akhirnya tiket dapat dibeli dengan sukses. Setelah makan siang, tim berangkat menuju Malang. Suasana KA kelas ekonomi itu bener-bener ramai, tidak pernah sepi. Baru memasuki gerbong kami sudah harus berargumentasi dengan seorang kakek tua yang memaksa menduduki tempat kami. Akhirnya kami berbagi. Sehingga posisi tidur semakin susah, selain karena posisi duduk yang kurang nyaman juga karena para penjual berbagai macam barang yang aktif berlalu-lalang di lorong gerbong.
Hari II, Kamis 14 Juli 2005
Memang benar semboyan yang berbunyi: “Sengsara membawa nikmat.” Setelah berada di kereta sekitar 20 jam (ngaret!!) akhirnya tim sampai di Malang dan langsung santap siang. Setelah kenyang, tim menggunakan angkot ke daerah Tumpang, dari sana tim menyewa sebuah Jip yang digunakan untuk mengantar ke pos pertama pendakian yang bernama Ranu Pani. Setelah mengurus izin ini-itu, tim akhirnya memulai pendakian sekitar pukul 5 sore. Sore mulai berganti malam, dan cerah pun berganti hujan. Dengan penerangan senter dan penghangatan jaket serta perlindungan rain coat, tim terus melanjutkan pendakian malam itu. Target malam ini: Ranu Kumbolo.
Setelah berjalan selama ± 3 jam, akhirnya tim mencapai Ranu Kumbolo dan memutuskan untuk bermalam di tenda yang kami bangun di dekat pondokan yang berada di tepi Danau Ranu Kumbolo. Setelah berganti baju dan bersantap malam, tim masuk ke sleeping bag masing-masing dan melaksanakan suatu ritual penting: tidur.

Hari III, Jumat 15 Juli 2005
Saya bangun kira-kira jam sembilan. Langsung ditawari susu oleh Nando, habis itu ngulet di sleeping bag lagi. Saya akui, kemanjaan saya benar-benar meningkat setelah setahun penuh tidak mendaki gunung. Setelah puas bermalas-malasan akhirnya saya keluar pondokan, ternyata matahari menyengat dengan tidak malu-malu, panas! Cukup panas untuk mengeringkan baju, celana, dan tas yang pada malem sebelumnya basah karena hujan.
Pada ekspedisi kali ini tim memang tidak terburu-buru karena kami ingin liburan dengan senang! Sambil menikmati sinar matahari, kami masak sarapan dan foto-foto di tepi Ranu Kumbolo. Kami menemukan nisan di dekat tenda kami, ternyata itu adalah nisan mengenang hilangnya seorang pendaki. Ini bukan satu-satunya nisan yang kami temui sepanjang perjalanan.
Setelah makan pagi, datanglah serombongan porter. Setelah diinterogasi, ternyata porter itu disewa oleh segerombolan turis Prancis yang juga ingin mendaki Semeru. Setelah jemuran kering dan perut kenyang, kami memasukkan kembali barang-barang kami ke dalam tas carrier untuk melanjutkan perjalanan. Target hari ini sebetulnya bermalam di Arcopodo, namun karena kami berangkat dari Ranu Kumbolo terlalu siang, maka kami memutuskan untuk bermalam di Kali Mati.
Pada perjalanan menuju Kali Mati masing-masing personil tim berjalan sesuai dengan kecepatannya masing-masing hingga tercipta jarak di antara satu sama lain. Jalur tidak bercabang, teriakan tetap terdengar. Sehingga kami tetap merasa aman. Saya sendiri termasuk kelompok yang berjalan di belakang. Memandang ke depan tidak lagi terlihat teman yang di depan, begitu juga ketika menengok ke belakang. Sendiri. Lebih buruk lagi: senter meredup. Sebenarnya saya membawa baterai cadangan, namun karena terang bulan cukup benderang saya tidak merasa membutuhkan mengganti baterai senter.
Sepanjang perjalanan yang ditemukan adalah semak belukar di sisi kiri dan kanan jalan setapak. Kadang ditemukan juga nisan-nisan dari orang yang dinyatakan hilang atau meninggal di Semeru. Dengan senter yang redup dan hanya mengandalkan terang bulan, tentu suasana jadi sedikit menyeramkan. Bunyi gesekan badan dengan semak kadang masih terdengar walau saya sedang berhenti. Sempat terpikir tentu seru sekali andai tiba-tiba saya dihampiri oleh salah seorang pendaki yang dinyatakan hilang. Sempat terimajinasi rupa pendaki yang hilang itu: kumal, gondrong, brewokan, seram, berbicara tidak jelas, dst. Sayangnya hal ini tidak terjadi hingga saya mencapai Kali Mati dan bergabung dengan personil tim lainnya.
Tenda-tenda sudah didirikan dan makan malam dihabiskan. Tim kemudian sepakat untuk bangun pada pukul 12 tengah malam guna bersiap-siap melaksanakan summit attack.
Hari IV, Sabtu 16 Juli 2005
Akhirnya setelah bangun dan bersiap-siap, tim berangkat menuju puncak pada pukul setengah dua dini hari. Tim bule prancis sudah berangkat lebih dulu dari kami. Perjalanan menuju puncak memang tidak mudah, jalan setapak yang menanjak dan berkelok-kelok membuat kaki saya terasa lebih cepat pegal, pasir yang menutupi seluruh puncak Semeru kadang tertiup angin dan masuk ke dalam mulut, membuat saya batuk-batuk, di atas mulut, pasir itu menyerang mata dan membuat kelilipan, singkat kata: REPOT! Benar sekali yang orang-orang katakan tentang pasir Semeru. Dua langkah kita mendaki, satu langkah kita turun lagi karena pasir yang longsor-longsor kecil. Tapi akhirnya setelah berjalan dan terus berjalan, Puncak Mahameru dapat dicapai.
Puncak dengan kawahnya yang terkenal sering mengeluarkan gas beracun itu memang sangat mengagumkan. Setiap kali bumi bergemuruh, kawah mengeluarkan gas beracunnya disertai lontaran batu-batu cadas. Cukup jauh dari posisi pendaki hingga dapat dikatakan cukup aman, namun cukup dekat untuk dapat melihat dengan jelas.
Dalam perjalanan menuju puncak, saya sering melihat layar telefon genggam. Kadang sinyal muncul, kadang hilang. Hingga akhirnya saya mendapatkan sinyal yang cukup untuk menelfon rumah. Telefon saya diterima oleh Ayah, saya mengabari bahwa sebentar lagi saya akan mencapai Puncak Semeru. Ayah terdengar senang sekali. Saya menanyakan kabar ibu, sayangnya ibu sedang shalat subuh jadi saya titip salam saja. Perjalanan dilanjutkan.

Ketika sampai di puncak, saya membuka sepatu dan mengeluarkan pasir yang masuk ke sepatu saya sejak tadi. Setelah itu saya memutuskan untuk berjalan-jalan di puncak, dibandingkan Puncak Rinjani, Puncak Mahameru ini sangat luas. Di puncak ini banyak ditemukan batu nisan untuk mengenang para pendaki yang wafat atau hilang di gunung ini, nisan-nisan itu tidak hanya ditemukan di puncak tapi juga bisa ditemukan di Arcopodo dan Ranu Kumbolo serta beberapa tempat lainnya. Di antara nisan tersebut terdapat juga nisan untuk mengenang tokoh Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. Tokoh Soe Hok Gie banyak dibicarakan orang pada saat kami mendaki gunung ini, karena pada 14 Juli 2005 sebuah film tentang dirinya yang berjudul GIE resmi diputar di bioskop-bioskop terdekat di kota anda. Meninggalnya tokoh ini disebabkan oleh gas beracun yang keluar dari kawah Gunung Semeru ini.

Setelah puas berada di puncak, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan berisitirahat sejenak sebelum berjalan kembali ke Ranu Kumbolo. Namun letihnya tubuh setelah menuju puncak membuat kami beristirahat lebih lama dan baru mencapai Ranu Kumbolo pada pukul 7 malam. Setelah mendirikan tenda dan bersantap malam seperti malam-malam sebelumnya kami beranjak tidur. Hari-hari di Gunung Semeru kami lewati dengan senang penuh tawa dan canda pokoknya hua ha ha ha….
Hari V, Minggu 17 Juli 2005
Kami bangun lalu langsung agak kesal, pasalnya telah terjadi hujan kabut ketika kami tidur dan masih berlangsung ketika kami mulai terjaga. Pasir dari sekitar tepian danau Ranu Kumbolo sepertinya telah tertiup oleh angin dan menyelimuti tenda kami. But the show must go on, kami tetap harus keluar tenda. Walau dalam keadaan kedinginan, kami tetap harus melaksanakan tugas masing-masing seperti mencuci peralatan makan, memasak sarapan, dll. Akhirnya perlahan kabut menghilang dan sinar matahari menguat.
Seiring dengan itu terlihat dari kejauhan seorang bule Jerman yang telah kami kenal sebelumnya, sedang turun menuju Ranu Kumbolo. Ketika sampai, ia mengisi persediaan botol minumnya dan sedikit bercakap-cakap dengan kami, walau tidak tahu namanya, kami memanggilnya Mr. John. Mr. John ini menarik untuk diceritakan karena jarang kami temukan seorang turis bule yang mendaki sendirian tanpa menggunakan jasa guide atau porter. Mr. John ini merupakan contoh yang langka, dari percakapan kami akhirnya kami mengetahui bahwa ternyata ia seorang ahli geologi yang baru lulus master dari universitasnya di Jerman sana.
Setelah Mr. John pamit, kami mulai mengepack barang-barang kami ke dalam carrier, kami berencana pulang hari itu juga.
Setelah berjalan ± 2-3 jam akhirnya kami sampai kembali di pos pertama Ranu Pani. Setelah melahap nasi goreng di warung, kamipun kembali naik jip ke Tumpang, setelah itu dilanjutkan ke Arjosari untuk mencari bis yang arah pulang ke Jakarta. Ketika itu hari sudah malam sekitar pukul sembilan, bis yang langsung ke Jakarta tidak ada. Akhirnya kami berganti-ganti bis hingga keesokan harinya..
Hari VI, Senin 18 Juli 2005
Akhirnya sampai di Jakarta sekitar pukul 8 malam. Trus lanjut naik taksi ke rumah trus mandi, pake baju, makan bersama keluarga sambil melihat-lihat foto selama perjalanan. Ibu tetap tidak tersenyum. Maaf Bu. Pasti ibu tetap mendoakan walaupun izin tak sampai. Terima kasih Bu.